Langsung ke konten utama

sejarah GTM

Peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah GTM


  1.      25 mei 1907         :    Untuk pertama kalinya belanda masuk ke daerah Mamasa.
  2.      03 januari 1913    :    volkschool (sekolah rakyat) dibuka di  daerah Mamasa.
  3.      2 oktober 1913     :    secara  resmi injil masuk Mamasa yang di bawah oleh INDISCHE KERK,   baptisan massal dilakukan oleh Pdt. Kyftenbelt.
  4.      21 januari 1928   :    Ds A Bikker bersama Nyonya tiba  di Mamasa yang di utus oleh ZCGK Nederland.
  5.      16 Januari 1929  :    gedung gereja pertama di bangun di kampung Tawalian. 
  6.        -------------1929   :    Dibuka Volksonderwijzer di Mamasa
  7.       -------------1931   :    Ds M Geleynse dan Nyonya
  8.       Desember 1932   :    Gedung gereja Tawalian selesai dibangun.
  9.       -------------1935   :    Berdiri  klasis Lembang Mamasa dan Klasis Tandalangngan.
  10.       ------------1936    : Dibuka H.I.S di Mamasa
  11.      15 Juli 1937         :    Parengnge’ Osango, Orobua, dan Mamasa menyatakan diri masuk Kristen (Hari pekabaran Injil).
  12.      31 Juli 1937   :    Peletakan batu Pertama Pembangunan Gedung gereja Mamasa Kota,  dirangkaikan dengan pemasangan BATU EMPAT SEGI bertuliskan nama-nama ke empat paraengnge’ yang telah masuk Kristen (Tawalian, Osango, Mamasa, Orobua).
  13.      21 Juli 1939   :    Perserikatan Pemuda mengadakan Hari Pemuda yang pertama di Kayuberang.
  14.       --- Oktober 1939    :    Pembangunan R.S. Banua Mamase dimulai.
  15.       31 Oktober 1939 :    R.S. Banua Mamase di buka/mulai dipakai.
  16.       23 Februari 1939      :     Dr B P Rotty meninggal di Mamasa dan di Kuburkan di Halaman  Gedung Gereja Mamasa Kota.
  17.           07 Juni 1947   :    Gereja Toraja Mamasa (GTM) Berdiri.
  18.       04-07 Juni 1947     :    Synode Am I GTM di Minake (Malabo).
  19.       5-16 Agustus 1949: Synode Partikelir di Gereja Mamasa Kota.
  20.       05 Mei 1950    :    Gugurnya Pdt Sem Bombong di Sumarorong.
  21.       --------1952   :    Gugurnya Pdt J Tupalangi serta Lebih dari 100 orang untuk    mempertahankan rakyat.
  22.       --------1968        :    Ds H P Brandsma dan Nyonya tiba di Mamasa untuk tugas Pengkaderan yang di utus oleh Deputaten Nederland.
  23.       01 Januari 1969     :    Pembukaan PGAAKP di Mamasa
  24.        --------1969        :    Drs W Van Heist tibadi Mamasa untuk mengajar pada STT Rantepao dari ZCGK 


sumber : buletin tunggal GTM 1986 oleh seksi publikasi dan dokumentasi (ketua : Arianus mandadung)


s

Komentar

  1. saya ingin tanya.. Dimana posisi Pdt E.J Latuihamallo waktu penginjilan dimamasa saat itu . trims. Ini dilihat karena PD Latuihamallo saat itu lahir di Mamasa.. saat bapak beliau melakukan penginjilan...PD Latuihamallo saat ini masih hidup berumur 94 tahun, mantan Rektor STT, Ketua DGI (PGI) Ketua LAI.trims

    BalasHapus
    Balasan
    1. http://mamasa-tempodoeloe.blogspot.com/2012/12/sejarah-singkat-pendidikan-di-mamasa.html

      Hapus
  2. Blog yang sangat informatif bro.., saya mohon ijin mengutip isi dari blog nya..

    Kurre..

    Admin Suara Mamasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. silakan...
      kurre.. uda mampir

      Hapus
    2. sudah saya cantumkan linknya bro.., thanks ya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah-istilah penting di Mamasa

Ada’ Tuo = Ada’ = aturan, Tuo = hidup, Ada’ Tuo berarti aturan hidup untuk kehidupan. Ada’ Tuo merupakan dasar adat istiadat di Kabupaten Mamasa dengan ungkapan Tuo Tammate mapia tangkadake, Siriwa Ada’ Tuo Ditampa Bulawan Dikondo Tedong . Yang berarti, persoalan betapa pun sulitnya selalu dapat diselesaikan dengan baik tanpa mengorbankan jiwa manusia. Alang lumbung Aluk Todolo Aluk = kepercayaan, Todolo = Pendahulu. Aluk Todolo adalah kepercayaan leluhur yang diwariskan pendahulu. Kepercayan Aluk Todolo ini masih dianut oleh sebagian masyarakat Mamasa. Aluk Todolo ini kemudian berafiliasi ke dalam agama Hindu dharma untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah RI. Ambe’ Panggilan yang ditujukan kepada kaum pria yang telah memiliki anak atau orang yang sudah dianggap tua (berdasarkan usia). Ao’ bamboo Ba’ba pintu Bai babi Bale ikan Bale-bale ikan terbang Bale bolu ikan bandeng Banua rumah, Dalam jenis dan tingkatan, rumah adat dan rumah tradisio...

Kisah Pongka Padang : Pertemuan dengan Torije'ne

Oleh : Apolos Ahpa, S.Th Pengawal ini pun kembali ke Gunung Buntu Bulo. Bertanyalah Pongka Padang kepadanya, “Apa yang kau dapati di sana?” Jawab pengawal, “Saya mendapati dua orang di sana, yang satu perempuan cantik berambut panjang dan berkulit putih, dan yang satu lagi laki-laki sebagai pengawalnya. Yang perempuan bernama Torije’ne’ dan pengawalnya bernama Pue Mangondang , selain sebagai pengawal, Pue Mangondang juga adalah saudara sepupu dari Torije’ne’. Mereka katanya berasal dari laut menggunakan perahu.” Lalu berkata lagi Pongka Padang kepada pengawalnya, “Kau pergi lagi ke sana dan katakana Bolehkah kita tinggal bersama-sama di satu tempat?”. Lalu pengawal itupun pergi lagi untuk kedua kalinya. Setelah sampai di sana dia berkata kepada Torije’ne’, “Majikan menyuruh saya menanyakan apakah anda setuju jika kita tinggal bersama-sama dalam satu tempa atau bagaimana?”. Lalu Torije’ne’ menjawab, “Ya, baiklah. Sekarang kau kembali kepada majikanmu dan katakan boleh, tapi saya mint...

Jenis-jenis pedang (La'bo) di Mamasa

Pedang dalam bahasa Mamasa disebut  La'bo' Tidak banyak yang tahu tentang keberadaan pedang-pedang ini. Tidak ada lagi yang membuatnya, tentu karena fungsinya yang sudah tidak relevan dengan jaman sekarang. Kalau pun masih ada, mungkin disimpan oleh pemiliknya sebagai benda pusaka atau kemungkinan yang lain sudah berada di pasar gelap. Seperti  jenis Penai misalnya, dalam sebuah situs jual beli senjata-senjata antik, semuanya habis terjual.   Menurut cerita, padang jaman dulu pedang sangat disakralkan. Beberapa pedang digunakan hanya untuk berperang. Ketika pedang dicabut dari sarung tidak boleh setengah2,itu merupakan sebuah pantangan, dan ketika tercabut sebuah pemali jika tidak memakan korban. Apabilah setelah mencabut tidak ada korban, biasanya sang pemilik melukai dirinya sendiri sebagai tumbal. Jadi orang Mamasa tidak boleh sembarang mencabut pedang. Musuh yang mati akan diambil kepalanya dan dibawa ke perkampungan sambil menari tarian Bulu londong. ...