Pada suatu ketika seorang leluhur bernama Bongga Karadeng . Ia sering keluar untuk berburu. Sekali waktu, ia tiba pada sebuah pertemuan antara dua sungai. Pada waktu itu ia bersama dengan enam orang budaknya. Di seberang sungai, ia melihat sebatang rotan aneh yang merambat dari dalam semak. Berkatalah ia kepada para budaknya: “Ayo kita menyeberang untuk mengikuti rotan itu. Kaitkan tombak kalian ke rotan itu untuk mengikuti alurnya yang tepat.” Budak-budak itu menyeberang ke sisi lain dari sungai itu dan mengikuti rotan itu. Akan tetapi tibalah malam sebelum mereka menemukan pangkal rotan itu. “Ayo kita beristirahat di sini”, kata Bongga Karadeng, “kita dapat meneruskannya besok”.Keesokan harinya mereka mencapai pokok rotan itu. Di sana mereka membangun sebuah pondok di tengah-tengah belantara. Sementara itu, anjing Bongga Karadeng masuk ke hutan dan membunuh seekor ular sawah yang besar. “Pergilah dan cari beberapa batang bambu untuk membuat api, supaya kita mema...
Pedang dalam bahasa Mamasa disebut La'bo' Tidak banyak yang tahu tentang keberadaan pedang-pedang ini. Tidak ada lagi yang membuatnya, tentu karena fungsinya yang sudah tidak relevan dengan jaman sekarang. Kalau pun masih ada, mungkin disimpan oleh pemiliknya sebagai benda pusaka atau kemungkinan yang lain sudah berada di pasar gelap. Seperti jenis Penai misalnya, dalam sebuah situs jual beli senjata-senjata antik, semuanya habis terjual. Menurut cerita, padang jaman dulu pedang sangat disakralkan. Beberapa pedang digunakan hanya untuk berperang. Ketika pedang dicabut dari sarung tidak boleh setengah2,itu merupakan sebuah pantangan, dan ketika tercabut sebuah pemali jika tidak memakan korban. Apabilah setelah mencabut tidak ada korban, biasanya sang pemilik melukai dirinya sendiri sebagai tumbal. Jadi orang Mamasa tidak boleh sembarang mencabut pedang. Musuh yang mati akan diambil kepalanya dan dibawa ke perkampungan sambil menari tarian Bulu londong. ...