Langsung ke konten utama

Postingan

Kisah Bongga Karadeng dan Datu Baringan : Asal Usul Diallun (tandalangngan : dipandan)

Pada suatu ketika seorang leluhur bernama Bongga Karadeng . Ia sering keluar untuk berburu. Sekali waktu, ia tiba pada sebuah pertemuan antara dua sungai. Pada waktu itu ia bersama dengan enam orang budaknya.    Di seberang sungai, ia melihat sebatang rotan aneh yang merambat dari dalam semak. Berkatalah ia kepada para budaknya: “Ayo kita menyeberang untuk mengikuti rotan itu. Kaitkan tombak kalian ke rotan itu untuk mengikuti alurnya yang tepat.”   Budak-budak itu menyeberang ke sisi lain dari sungai itu dan mengikuti rotan itu. Akan tetapi tibalah malam sebelum mereka menemukan pangkal rotan itu. “Ayo kita beristirahat di sini”, kata Bongga Karadeng, “kita dapat meneruskannya besok”.Keesokan harinya mereka mencapai pokok rotan itu. Di sana mereka membangun sebuah pondok di tengah-tengah belantara. Sementara itu, anjing Bongga Karadeng masuk ke hutan dan membunuh seekor ular sawah yang besar. “Pergilah dan cari beberapa batang bambu untuk membuat api, supaya kita mema...
Postingan terbaru

Jenis-jenis pedang (La'bo) di Mamasa

Pedang dalam bahasa Mamasa disebut  La'bo' Tidak banyak yang tahu tentang keberadaan pedang-pedang ini. Tidak ada lagi yang membuatnya, tentu karena fungsinya yang sudah tidak relevan dengan jaman sekarang. Kalau pun masih ada, mungkin disimpan oleh pemiliknya sebagai benda pusaka atau kemungkinan yang lain sudah berada di pasar gelap. Seperti  jenis Penai misalnya, dalam sebuah situs jual beli senjata-senjata antik, semuanya habis terjual.   Menurut cerita, padang jaman dulu pedang sangat disakralkan. Beberapa pedang digunakan hanya untuk berperang. Ketika pedang dicabut dari sarung tidak boleh setengah2,itu merupakan sebuah pantangan, dan ketika tercabut sebuah pemali jika tidak memakan korban. Apabilah setelah mencabut tidak ada korban, biasanya sang pemilik melukai dirinya sendiri sebagai tumbal. Jadi orang Mamasa tidak boleh sembarang mencabut pedang. Musuh yang mati akan diambil kepalanya dan dibawa ke perkampungan sambil menari tarian Bulu londong. ...

4 upacara adat yang perlu diketahui oleh orang Mamasa

Disebut juga Pemali appa randanna. Pemali             : larangan Appa randanna     : empat tepi artinya aluk dan pemali, dan waktunya terbagi empat dengan masing-masing upacara dan larangannya. Adapun empat upacara yang dimaksud sebagai berikut: 1. Pa’banetauan. Mengenai upacara perkawinan; upacra itu dilakukansesudah masa Pa’bisuan. Dalam pelaksanaan perkawinan ditempu beberapa tahapan: a. Mangusik : utusan dari pihak laki-lakimenghubungi keluarga perempuan terdekat dari perempuan yang hendak dipinang. b. Ma’randang : dalam ma’randang hadir seluruh keluarga perempuan dan utusan resmi dari pihak laki-laki. Tujuan ma’randang ialah mendapat kata sepakat dari keluarga wanita secara resmi. c. Ma’somba : perkawinan dengan dengan memotong hewan. Jumlah hewan yang dipotong tergantung derajat kedua belah pihak. Dahulu Mamasa mengenal poligami. Tapi pada praktek poligami terbatas pada orang-orang ka...

Poppok, tabelutto, anitu, dan bombo : Hantu Mamasa

   Roh dari beberapa orang dapat meninggalkan tubuh mereka di malam hari untuk mencari daging atau darah mati orang .Orang tersebut, paling sering seorang wanita, disebut poppok  .Biasanya dia terbang di malam hari.    Roh seorang wanita yang meninggal saat melahirkan bisa menjadi masalah tertentu, terutama bagi kaum pria. Roh seperti itu, di Mamasa disebut tabelutto’ (tabulitto), pergi keluar pada malam hari untuk menakut-nakuti orang-orang yang berjalan di luar desa. Tabelutto’  dikhawatirkan oleh orang-orang selama empat puluh hari setelah pemakaman wanita. Terkadang tabelutto’ merasuk wanita lain, yang kemudian mulai berteriak histeris.    Ketika seseorang meninggal, ia menjadi roh yang disebut bombo yang akhirnya perjalanan ke tanah orang mati. Dalam hal ini tidak ada yang harus ditakuti dari bombo tersebut. Namun, beberapa bombo tidak diterima ke dalam tanah orang mati, karena ritual yang diperlukan tidak dilakukan. Ha...

Kondosapata : Filosofi

Oleh : Octovianus Danunan Makna Kondosapata' akan lebih mudah dipahami kalau dilengkapi dengan Wai Sapalelean. Biasanya langsung disambung "Kondosapata Wai Sapalelean" arti harafiahnya, sawah yang luas dengan air yang merata. Tapi arti filosofinya, artinya sebuah wilayah yang luas, yang di dalamnya ada masyarakat adat yang menganut nilai-nilai keadilan, tak ada perbedaan status sosial (kasta).  Karena leluhur kita yang menemukan dan menduduki wilayah ini adalah orang yang menganut paham demokrasi yang adil, yaitu nenek PONGKAPADANG bersama Toburake Tattiu' yang mengembara ke wilayah (barat Toraja) Saluputti, Bittuang, lembang Mamasa, Pitu Ulunna Salu (PUS) sampai ke wilayah Mamuju, Mandar dan Wilayah Tanda sau'. Pongkapadang (perabang Kondosapata) mengembangkan prinsip pranata sosial keadilan yang dalam bahasa adatnya "To niru'i suke dipappa', to unkandei kandean saratu" artinya masyarakatnya tidak ada perbedaan kasta, seperti yang...

Kisah Pongka Padang : Pertemuan dengan Torije'ne

Oleh : Apolos Ahpa, S.Th Pengawal ini pun kembali ke Gunung Buntu Bulo. Bertanyalah Pongka Padang kepadanya, “Apa yang kau dapati di sana?” Jawab pengawal, “Saya mendapati dua orang di sana, yang satu perempuan cantik berambut panjang dan berkulit putih, dan yang satu lagi laki-laki sebagai pengawalnya. Yang perempuan bernama Torije’ne’ dan pengawalnya bernama Pue Mangondang , selain sebagai pengawal, Pue Mangondang juga adalah saudara sepupu dari Torije’ne’. Mereka katanya berasal dari laut menggunakan perahu.” Lalu berkata lagi Pongka Padang kepada pengawalnya, “Kau pergi lagi ke sana dan katakana Bolehkah kita tinggal bersama-sama di satu tempat?”. Lalu pengawal itupun pergi lagi untuk kedua kalinya. Setelah sampai di sana dia berkata kepada Torije’ne’, “Majikan menyuruh saya menanyakan apakah anda setuju jika kita tinggal bersama-sama dalam satu tempa atau bagaimana?”. Lalu Torije’ne’ menjawab, “Ya, baiklah. Sekarang kau kembali kepada majikanmu dan katakan boleh, tapi saya mint...