Langsung ke konten utama

foto bambang, mambi, dan ma'purondo (mappurondo). tahun 80-an

keterangan gambar seperti pada sumbernya.... demi menghindari kesalahan penafsiran (atau memang saya yang tidak Tahu English.. hehehe)





Ambe Sope, the topuppu (the one who presides at ritual festivities) in one of the
mappurondo communities, offers areca, betel, lime, and tobacco to the surrogate head,
here perched on a makeshift centerpost and swathed in a headcloth. After honoring
their victim as a guest, villagers will taunt the head with song. Ambe Sope's face is
caked with rice paste, intended to lighten and refine his complexion for the final cere-
monies of pangngae. 1984.






The Salu Mambi headwaters. 





A hamlet in Bambang, at the headwaters of the Salu Mambi. 1984.







A single-hearth house and rice barn in Bambang. A woman works in the yard
between them. 1984.





The regional adat territories: "The Seven Headwaters" and "The Seven Rivermouths"




while away on his journey, each headhunter prepares a tambolâ flute and decorates it with plaited areca or sugar-palm leaves. The "voice" of the flute releases the mappurondo community from mourning. 1984.




Ambe Sope in the upstream, gable-end loft of a house, preparing to present the
head to the debata (spirits). The head hangs enclosed in a dark woven pouch (center).
Beside it hangs a rack for offerings. and above it rest the tambolâ flutes frown a prior
headhunting ritual. 1984.




The tomatuatonda' ("the elder of the village") comes out to greet the return-
ing cohort of topangngae (headhunters). He carries two torches: the one blazing in
his right hand is the first fire to be rekindled in the village following the return of the
topangngae. 1985.




Pua' Soja, 1983.




Sumber
book : Showing signs of violence: the cultural politics of a twentieth-century headhunting ritual

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Sangatlah membantu dijaman teknologi sekarang selaian memperkenalkan budaya kita,anak cucu,cicit dari mendiang para leluhur kita bisa membaca atau paling tidak mengetahui sejarah kapoeng kita.Dan saya bangga jadi anak to mamasa walau pun berada dirantau orang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah-istilah penting di Mamasa

Ada’ Tuo = Ada’ = aturan, Tuo = hidup, Ada’ Tuo berarti aturan hidup untuk kehidupan. Ada’ Tuo merupakan dasar adat istiadat di Kabupaten Mamasa dengan ungkapan Tuo Tammate mapia tangkadake, Siriwa Ada’ Tuo Ditampa Bulawan Dikondo Tedong . Yang berarti, persoalan betapa pun sulitnya selalu dapat diselesaikan dengan baik tanpa mengorbankan jiwa manusia. Alang lumbung Aluk Todolo Aluk = kepercayaan, Todolo = Pendahulu. Aluk Todolo adalah kepercayaan leluhur yang diwariskan pendahulu. Kepercayan Aluk Todolo ini masih dianut oleh sebagian masyarakat Mamasa. Aluk Todolo ini kemudian berafiliasi ke dalam agama Hindu dharma untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah RI. Ambe’ Panggilan yang ditujukan kepada kaum pria yang telah memiliki anak atau orang yang sudah dianggap tua (berdasarkan usia). Ao’ bamboo Ba’ba pintu Bai babi Bale ikan Bale-bale ikan terbang Bale bolu ikan bandeng Banua rumah, Dalam jenis dan tingkatan, rumah adat dan rumah tradisio...

Kisah Pongka Padang : Pertemuan dengan Torije'ne

Oleh : Apolos Ahpa, S.Th Pengawal ini pun kembali ke Gunung Buntu Bulo. Bertanyalah Pongka Padang kepadanya, “Apa yang kau dapati di sana?” Jawab pengawal, “Saya mendapati dua orang di sana, yang satu perempuan cantik berambut panjang dan berkulit putih, dan yang satu lagi laki-laki sebagai pengawalnya. Yang perempuan bernama Torije’ne’ dan pengawalnya bernama Pue Mangondang , selain sebagai pengawal, Pue Mangondang juga adalah saudara sepupu dari Torije’ne’. Mereka katanya berasal dari laut menggunakan perahu.” Lalu berkata lagi Pongka Padang kepada pengawalnya, “Kau pergi lagi ke sana dan katakana Bolehkah kita tinggal bersama-sama di satu tempat?”. Lalu pengawal itupun pergi lagi untuk kedua kalinya. Setelah sampai di sana dia berkata kepada Torije’ne’, “Majikan menyuruh saya menanyakan apakah anda setuju jika kita tinggal bersama-sama dalam satu tempa atau bagaimana?”. Lalu Torije’ne’ menjawab, “Ya, baiklah. Sekarang kau kembali kepada majikanmu dan katakan boleh, tapi saya mint...

Jenis-jenis pedang (La'bo) di Mamasa

Pedang dalam bahasa Mamasa disebut  La'bo' Tidak banyak yang tahu tentang keberadaan pedang-pedang ini. Tidak ada lagi yang membuatnya, tentu karena fungsinya yang sudah tidak relevan dengan jaman sekarang. Kalau pun masih ada, mungkin disimpan oleh pemiliknya sebagai benda pusaka atau kemungkinan yang lain sudah berada di pasar gelap. Seperti  jenis Penai misalnya, dalam sebuah situs jual beli senjata-senjata antik, semuanya habis terjual.   Menurut cerita, padang jaman dulu pedang sangat disakralkan. Beberapa pedang digunakan hanya untuk berperang. Ketika pedang dicabut dari sarung tidak boleh setengah2,itu merupakan sebuah pantangan, dan ketika tercabut sebuah pemali jika tidak memakan korban. Apabilah setelah mencabut tidak ada korban, biasanya sang pemilik melukai dirinya sendiri sebagai tumbal. Jadi orang Mamasa tidak boleh sembarang mencabut pedang. Musuh yang mati akan diambil kepalanya dan dibawa ke perkampungan sambil menari tarian Bulu londong. ...