Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2012

“Banua Mamase” bagian 1

Untuk melayani pasien yang sudah banyak di Mamasa,    Ds . A Bikker  memintah pertolongan permerintah untuk membangun sebuah rumah sakit di Mamasa. Sebanyak £ 2.000 dijanjikan oleh SIMAVI untuk bantuan tersebut selam tiga tahun. Informasi ini sampai di Zending Deputaten, akhirnya mereka membuat suatu aksi mengumpulkan uang untuk pembangunan rumah sakit tersebut. Hasilnya £ 10.000, kemudian dimulailah pembangunan rumah sakit tersebut pada bulan oktober 1939.  Het (nieuwe) zendingshospitaal te Mamasa, Toraja, Sulawesi. Gebouwd met steun van de Mandarse Landschapskas, door de Christelijke Gereformeerde Zending. Pada tanggal 31 oktober 1939 rumah sakit dibuka dengan 20 tempat tidur, nama rumah sakit tersebut: “BANUA MAMASE” yang artinya “Rumah Pengasih”.   dr. B . P Rotty bekerja sebagai dokter tetap di Mamasa dalam dinas zending deputaten. Ia tamat STOVIA di Jakarta dan telah bekerja selama 28 tahun di pelbagai tempat di Indonesia. dr. B ...

Uang Darurat di Mamasa!

Antara tahun 1937-1938 keadaan keuangan dirasakan sangat sulit. Kas yang sudah kosong dan guru-guru butuh uang dan harus dibayarkan gajinya. Untuk mengatasi keadaan darurat dan keuangan yang memburuk di Mamasa saat itu, Ds A Bikker (Penginjil pertama dari ZCGK) pernah membuat uang darurat berbentuk bon-bon bernomor F2, F5 dan F10. Dengan bon-bon inilah guru-guru dapat dibayar. bon-bon itu dijadikan alat pembayaran sementara di toko-toko Mamasa. Ds A Bikker sendiri menyatakan bertanggung jawab secara pribadi dan. Setelah Ds A Bikker mendapat uang dari Belanda, bon-bon tersebut ditukar kembali dengan uang asli. Pernah pula ia menjual mobilnya agar mereka bisa makan. Demikian suka-duka Ds A Bikker dalam mengatasi kesulitan ekonomi keuangan di Mamasa pada saat itu. sumber: buletin Tunggal GTM 1986

DI-TII Dan Andi Selle’ di Mamasa

Beberapa pemimpin masyarakat dan gereja gugur dalam menghadapi masa  suram menghadapi DI-TII Dan Andi Selle’ (1950-1964) Pada tanggal 29 desember 1949, Balanda mengakui Republik Indonesia Serikat berdiri secara resmi. Kemudian pada tanggal 17 Agustus 1950, Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) dihapuskan dan berdirilah Negara Kesatuan Kesatuan Republik Indonesia. Pada masa itu keadaan tanah Toraja dan Mamasa mulai berada dalam kekacauan karena adanya gerombolan DI-TII di bawah pimpinan Kahar Muzakar yang ingin mendirikan Negara Islam di Indonesia. Abdul Kahar Muzakkar. Pendiri TII Untuk mengatasi peristiwa berdarah ini, Batalion 710 dibawah pimpinan Andi Selle’ yang berpusat di polewali ditugaskan untuk melindungi orang-orang Mamasa dari gangguan gerombolan tersebut. Tetapi malang bagi masyarakat Mamasa, sebab harapan justru menjadi kebencian dan penyesalan belaka. Keganasan kesatuan 710 justru lebih menghancurkan semangat dan jiwa orang Mamasa. Mereka...